Oleh: Hajar dan Yeni Yulita Larope
(Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana Universitas Muhamadiyah Palu, 2026)
PASCA musim hujan adalah masa kritis yang meningkatan risiko kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), masalah kesehatan masyarakat yang masi serius di Indonesia, terutama di Sulawesi Tengah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Data Kementerian Kesehatan RI mencatat pada tahun 2024 terdapat 257.271 kasus dengan 1.461 kematian, dan hingga pertengahan 2025 telah dilaporkan 78.646 kasus dengan 346 kematian.
Di Sulawesi Tengah, kenaikan kasus DBD terjadi signifikan, dengan Kota Palu, Morowali Utara, Morowali, dan Poso sebagai daerah terdampak utama.
Kabupaten Tojo Una-Una juga melaporkan 210 kasus pada 2024 dan 104 kasus hingga pertengahan 2025 (Dinkes Kabupaten Tojo Una-Una,2024; 2025).
Penyakit Demam Berdarah disebabkan virus dengan (DENV) yang ditularkan oleh nyamuk Audes aegypti dan Aedes albopictus.
Virus ini memiliki empat serotipe (DENV-1 hingga DENV-4, yang memungkinkan seseorang terinfeksi lebih dari sekali sepanjang hidupnya.
Air di lingkungan sekitar, serta tempat penampungan air dan sampah tidak tertutup seperti ban bekas, botol , dan pot bunga tak terpakai.
Sanitasyang buruk dan pasokan air yang terbatas juga memperparah situasi, memudahkan nyamuk berkembang biak.
Curah hujan yang tinggi membuat genangan air bertambah banyak sebagai tempat berkembang biak nyamuk, sedangkan masa kekeringan memaksa masyarakat menampung air yang juga menjadi habitat nyamuk.
Untuk itu, pengendalian DBD perlu melibatkan berbagai metode, seperti teknik lingkungan, insektisida residu luar ruangan (ORS), perangkap autosidal, dan rekayasa genetika nyamuk jantan.
Gerakan pemerintah melalui program 3M Plus sangat penting untuk mencegah penularan DBD, yaitu:
Menguras: Rutin membersikan dan menguras tepat penampungan air.
Menutup: Menutup rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak berkembang biak.
Mengubur: Mengubur atau membuang barang bekas yang dapat menampung air.
Plus: Menggunakan obat nyamuk, memasang kawat jaring di jendela dan ventilasi, menjaga kebersihan lingkungan, serta menanam tanaman pengusir nyamuk
Keterlibatan aktif masyarakat melalui gotong royong dan edukasi menjadi kunci keberhasilan pengendalian DBD.
Pencegahan yang efektif dapat sangat mengurangi risiko penularan terutama setelah musim hujan saat lingkungan sangat kondusif bagi nyamuk berkbang.
Sebagai penutup, semua pihak perlu tetap waspada dan melaksanakan upaya pencegahan terpadu demi melindungi keluarga dan masyarakat dari ancaman Demam Berdarah yang terus mengintai pasca musim hujan.
Dengan risiko yang terus meningkat, penting bagi setiap individu dan komunitas untuk selalu siaga dan melakukan langkah pencegahan.
Melalui kerjasama dan edukasi berkelanjutan, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan terhindar dari bahaya Demam Berdarah.
Ingatlah, pencegahan dimulai dari diri sendiri dan keluarga.
Mari tingkatkan kesadaran dan partisipasi aktif dalam upaya pencegahan Demam Berdarah agar kita semua tetap sehat dan aman.(*)
Penulis : REDAKSI
Editor : REDAKSI
Sumber Berita: KLIK INDONESIA











