(Edisi II)
Oleh: Budi Dako
FAJAR belum sepenuhnya merekah ketika Rahman (62) telah berdiri di tepi pantai. Dalam cahaya yang masih samar, ia mendorong perahu kayunya perlahan ke laut. Tak ada yang membantunya. Hanya suara ombak kecil, angin asin yang berhembus lembut, dan langkah tuanya yang tetap teguh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perahu itu sudah menua, sama seperti pemiliknya. Catnya memudar, kayunya mulai lapuk, dan mesinnya kerap tersendat sebelum akhirnya menyala. Namun, keduanya masih setia berlayar, menantang hari demi hari.
Bagi Rahman, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut adalah rumah kedua, tempat ia menggantungkan hidup, membesarkan anak-anak, dan menyimpan begitu banyak kenangan. Di sanalah ia belajar bahwa hidup kadang memberi, kadang menguji.
“Kadang sehari di laut, hasilnya tidak cukup untuk belanja besok,” ujarnya pelan.
Jaringnya penuh tambalan. Benang-benangnya mulai rapuh dimakan usia. Mesin perahunya pun sering mogok di tengah laut. Namun, Rahman tak pernah benar-benar berhenti melaut. Bukan karena ia tak lelah, tetapi karena ia masih percaya bahwa harapan selalu ada, sekecil apa pun.
Di rumah sederhana di tepi pantai, istrinya selalu menunggu. Setiap sore, perempuan itu duduk di beranda, menatap laut dengan pandangan yang sama dari tahun ke tahun. Menanti perahu tua itu kembali. Kadang Rahman pulang membawa ikan, kadang hanya membawa tubuh yang lelah. Tak jarang pula ia hanya diam, karena tak semua kegelisahan mampu diterjemahkan menjadi kata-kata. Namun bagi istrinya, kepulangan Rahman dengan selamat adalah rezeki terbesar.
Anak-anak mereka telah lama pergi merantau. Mereka memilih meninggalkan kampung halaman dan laut yang tak lagi menjanjikan masa depan yang pasti. Rahman memahami pilihan itu.
“Kalau mereka bisa hidup lebih baik di tempat lain, saya ikut senang,” katanya. Ia tak ingin anak-anaknya mewarisi kehidupannya yang penuh ketidakpastian.
Tetapi untuk dirinya sendiri, laut adalah bagian yang tak mungkin dilepaskan. Meninggalkan laut, bagi Rahman, sama seperti meninggalkan sebagian dari jiwanya.
Di tengah perjuangan nelayan seperti Rahman, setitik harapan mulai tumbuh. Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una tengah menggulirkan Program Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Podi dan Tete B, Kecamatan Ampana Tete. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui penataan kawasan, penguatan sarana usaha, dan pemberdayaan ekonomi nelayan.
Tak hanya itu, pemerintah daerah juga membuka ruang investasi. Melalui Perusahaan Daerah Tojo Una-Una, investor asal Dubai mulai melirik potensi besar sektor perikanan, pertanian, dan energi terbarukan di wilayah ini. Bagi masyarakat pesisir, kabar tersebut membawa harapan baru. Harapan bahwa kehidupan mereka suatu hari akan menjadi lebih baik.
Namun bagi Rahman, perubahan itu masih terasa seperti perahu di cakrawala—terlihat, tetapi belum benar-benar merapat.
Sore itu, Rahman kembali lebih awal. Perahunya nyaris kosong. Ia duduk di tepi perahu, menatap laut yang perlahan berubah warna menjadi jingga. Wajahnya memancarkan kelelahan, tetapi matanya masih menyimpan keyakinan.
“Selama laut masih memberi, walau hanya sedikit, saya akan tetap pergi,” katanya lirih.
Kalimat itu sederhana, tetapi memuat seluruh perjalanan hidupnya. Rahman adalah potret nelayan kecil yang tetap teguh bertahan di tengah zaman yang terus berubah. Di tengah hasil tangkapan yang tak menentu, alat yang serba terbatas, dan usia yang kian menua, ia tetap setia pada laut.
Setiap pagi ia berangkat membawa harapan. Setiap senja ia pulang, membawa apa yang diberikan laut hari itu. Dan selama laut masih memberi, Rahman akan terus melaut—menjaga harapan, menjemput rezeki, dan menanti perubahan benar-benar berlabuh di pantai tempat ia menghabiskan hidupnya. *[]
Penulis : Budi Dako
Editor : Redaksi
Sumber Berita: Klik Indonesia.co











