BANGKEP, KLIKINDONESIA– Insiden keracunan makanan yang menimpa siswa menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Banggai Kepulauan langsung menggelar evaluasi total.
Ketua Satgas, Aris Susanto, S.E., M.E., menegaskan kebijakan baru. Evaluasi program prioritas nasional ini akan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan.
“Ini bukan forum mencari siapa yang salah. Kita ingin perbaiki yang kurang agar program berjalan optimal,” kata Aris dalam rapat evaluasi, Kamis (5/3/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Satgas mencatat dua kali Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makanan di wilayah tersebut. Kasus terbaru melibatkan 15 siswa. Sampel makanan sudah dikirim ke laboratorium untuk uji forensik.
“Setiap hari kami waswas. Hari ini aman, besok belum tentu. Ini ibarat pesta makan setiap hari,” ungkap Aris prihatin.
Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Banggai Kepulauan, Handika, blak-blakan soal kendala lapangan. Masalah utama ada pada fasilitas dapur, keterbatasan bahan baku, dan akses distribusi.
Saat ini ada 12 dapur melayani 22.016 penerima manfaat. Namun, Handika menyoroti standar kelayakan.
“Kalau fasilitas belum sesuai standar keamanan pangan, jangan dipaksakan beroperasi,” tegasnya.
Pasokan bahan baku lokal juga ngos-ngosan. Di Bulagi, kebutuhan ikan mencapai 2.700 ekor sekali distribusi, yang sulit dipenuhi pasar lokal. Akibatnya, menu didominasi telur dan ayam, memicu keluhan orang tua.
Distribusi ke wilayah terpencil pun menantang maut. Medan ekstrem membuat risiko makanan rusak di jalan sangat tinggi.
Ketua DPRD Banggai Kepulauan, Arkam Supu, memberikan kritik pedas. Menurutnya, kejadian berulang adalah bukti ketidakseriusan.
“Kalau tidak ada kejadian kedua, mungkin kita tidak kumpul hari ini. Kita harus serius, bukan pura-pura serius,” sentil Arkam.
Pihak TNI-Polri juga menekankan hal senada. Perwira Penghubung Kodim 1308/LB mengingatkan bahwa ini menyangkut nyawa anak-anak. Tidak boleh ada toleransi terhadap standar keamanan.
Menutup rapat, Satgas sepakat memperketat pengawasan dapur dan edukasi gizi. BGN juga membuka opsi dapur satelit untuk menjangkau wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). (*)
Penulis : Victor Reppie
Editor : Mahmud Marhaba
Sumber Berita: KLIK INDONESIA











